"Selamat Hari Kesaktian Pancasila! Mari kita jadikan Pancasila sebagai pedoman hidup untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa."
Mengenang Sejarah Kelam dan Pengorbanan Pahlawan
Tepat 58 tahun yang lalu, bangsa kita dihadapkan pada sebuah tragedi kemanusiaan yang kelam. Pada malam 30 September menjelang 1 Oktober 1965, terjadi upaya makar yang bertujuan mengganti Dasar Negara kita, Pancasila, dengan ideologi lain. Peristiwa Gerakan 30 September itu telah merenggut nyawa tujuh Pahlawan Revolusi, para perwira terbaik TNI Angkatan Darat, yang gugur sebagai kusuma bangsa demi mempertahankan tegaknya Pancasila.
Kita mengenang Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Anumerta R. Suprapto, Mayor Jenderal Anumerta M.T. Haryono, Mayor Jenderal Anumerta S. Parman, Brigadir Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan, Brigadir Jenderal Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Anumerta Pierre Tendean, serta seluruh prajurit dan rakyat yang berjuang melawan rongrongan ideologi anti-Pancasila.
Pengorbanan mereka tidak sia-sia. Kegagalan gerakan tersebut membuktikan satu hal: Pancasila itu Sakti! Ia adalah benteng ideologi yang tak tergoyahkan, yang selalu mampu menyatukan kita sebagai satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa, meski menghadapi badai sejarah yang paling dahsyat sekalipun.
Menghayati Makna Kesaktian Pancasila Masa Kini
Lantas, apa makna "Kesaktian Pancasila" di era modern ini?
Kesaktian Pancasila bukanlah hanya tentang cerita masa lalu, melainkan juga tentang komitmen kita saat ini. Pancasila terbukti sakti karena nilai-nilainya melampaui batas waktu dan tetap relevan menghadapi berbagai tantangan kontemporer:
-
Ancaman Ideologi Kontemporer: Mulai dari radikalisme, intoleransi, hingga ideologi transnasional yang berupaya merusak tatanan sosial dan politik kita.
-
Kesenjangan Sosial: Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menuntut kita untuk berjuang mengatasi kemiskinan dan ketimpangan, memastikan setiap warga negara mendapatkan haknya secara adil.
-
Disinformasi dan Polarisasi: Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengingatkan kita untuk menjaga persaudaraan, melawan hoaks, dan menolak perpecahan akibat politik identitas yang sempit.
Oleh karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila adalah panggilan untuk bertindak. Kita semua, dari birokrat hingga petani, dari guru hingga pelajar, memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghafal Pancasila, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
