Hari ini, tanggal 7 Oktober, adalah pengingat akan hari berpulangnya seorang tokoh besar, Bapak Soetomo, yang kita kenal sebagai Bung Tomo. Tepat pada tanggal ini di tahun 1981, sang orator ulung yang membakar semangat "Arek-Arek Suroboyo" gugur, bukan di medan perang, melainkan saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Namun, tanggal ini bukanlah sekadar catatan akhir sebuah riwayat, melainkan undangan untuk merenungkan dan menghidupkan kembali nyala api yang pernah ia kobarkan.
Ketika kita mengingat Bung Tomo, pikiran kita langsung tertuju pada lantangnya suara yang menggema dari corong radio, memecah keheningan mencekam pasca-kemerdekaan. Orasinya di Pertempuran 10 November 1945 bukanlah sekadar kata-kata, melainkan sebuah injeksi keberanian yang mengubah rasa takut menjadi amarah, mengubah kepasrahan menjadi perlawanan. Beliau mengajarkan kita bahwa semangat adalah senjata terkuat yang dimiliki suatu bangsa, lebih tajam dari bayonet dan lebih dahsyat dari bom.
Di hari ini, 7 Oktober, mari kita jadikan semangat Bung Tomo sebagai cermin:
-
Semangat untuk Berani Bersuara. Di zaman yang damai ini, penjajah mungkin tak lagi bersenjata, tetapi tantangan seperti ketidakadilan, korupsi, dan ketidakpedulian sosial masih merajalela. Bung Tomo tak gentar melawan kekuatan kolonial, maka kita pun harus berani menyuarakan kebenaran, berani kritis, dan menuntut yang terbaik untuk bangsa ini, sesuai dengan jalur moral dan hukum.
-
Semangat untuk Berjuang Hingga Titik Darah Penghabisan. Perjuangan Bung Tomo tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Beliau menunjukkan bahwa dedikasi total pada cita-cita kemerdekaan tak mengenal kata menyerah. Bagi kita hari ini, perjuangan itu adalah wujud totalitas dalam membangun: berinovasi tanpa henti, belajar tiada akhir, dan bekerja sepenuh hati untuk memajukan komunitas, bidang kerja, dan negara.
-
Semangat Keimanan dan Akhlak Mulia. Bung Tomo meninggal dunia dalam keadaan mulia, saat menunaikan Rukun Islam kelima. Hal ini mengingatkan kita bahwa keberanian dan kepahlawanan sejati haruslah berakar pada nilai-nilai luhur dan keimanan. Kepemimpinan sejati adalah yang berintegritas dan bertaqwa.
Tugas kita adalah menjadikan cita-cita Indonesia Merdeka—yang penuh keadilan, kemakmuran, dan kehormatan—sebagai medan tempur kita sehari-hari.
Allahu Akbar! Merdeka!
